Selamat Datang di www.cetak-tiketku.blogspot.com, Peluang Usaha Untuk Mengelola Bisnis Penjualan Tiket Di Rumah Anda dengan Mudah ....!


Selamat Datang

Rekan Netter ...

Prospek Bisnis online di bidang penjualan tiket pesawat masih sangat besar peluangnya, selama perusahaan penerbangan masih ada dan dunia pariwisata terus berkembang, bisnis tiket pesawat masih layak untuk dipertimbangkan, hal yang perlu diperhatikan adalah menjamurnya pusat penjualan tiket dimana – mana, sehingga daya saing semakin tinggi, perlu suatu terobosan yang inovatif agar tetap bersaing sehat. Ini lah yang menjadi pertimbangan birotiket.com sehingga membuka peluang bisnis online menjadi biro tiket pesawat secara online dengan modal sedikit tetapi hasil yang sangat luar biasa..

Tahukah anda bahwa Internet juga bisa digunakan untuk menjalankan bisnis jutaan rupiah dengan modal terjangkau? Ya, kini anda dapat memanfaatkan Internet agar dapat menghasilkan jutaan rupiah per bulannya.

BERIKUT INI BUKTI KESERIUSAN KAMI
MENGAJAK ANDA MEMULAI USAHA BISNIS TIKET PESAWAT SECARA ONLINE

Menjadi Biro Tiket Pesawat tidaklah sesulit yang anda bayangkan bisa dilakukan kapan saja dimana saja oleh anda yang berprofesi sebagai karyawan, Pengusaha, ibu rumahtangga, mahasiswa, atau siapa saja! DIJAMIN, Anda tidak ingin melewatkan Peluang berharga ini...

Resiko ? Setiap Bisnis mempunyai resiko, Hal terpenting adalah bagaimana strategi anda mengolah resiko menjadi profit, salah satu cara mencari peluang bisnis dengan nilai investasi yang kecil.

Berapa modal yang anda keluarkan? Untuk menjadi agen penjualan tiket pesawat online sangatlah murah yaitu hanya sebesar Rp. 150000,- saja. Itu tidak seberapa mahal jika dibanding anda menjadi agen penjualan tiket secara offline.

KEUNTUNGAN APA SAJA YANG AKAN ANDA DAPATKAN ?

1. Proses reservasi / booking bisa dilakukan darimana saja dan kapan saja di seluruh wilayah Indonesia.
2. Data yang transparan langsung dari airline.
3. Proses reservasi langsung dilakukan dari sistem airline.
4. Anda bisa mencetak sendiri tiket anda dan penumpang anda bisa langsung terbang.
5. Pembayaran melalui transfer bank sehingga bisa lebih cepat dan akurat.
6. Anda bisa menjual kembali tiket tersebut kepada orang lain dengan harga pasar.

Selain beberapa keuntungan di atas, masih banyak lagi keuntungan yang akan anda dapatkan jika bergabung bersama www.birotiket.com, selengkapnya silahkan klik disini

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI
POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA


Bergabung? silahkan klik disini

Selasa, 06 Februari 2018

The Naked Traveler

The Naked Traveler


Anambas kece banget!

Posted: 06 Feb 2018 09:54 AM PST

Terus terang nama Anambas baru terdengar di telinga saya pada 2012 saat CNN menyebut Anambas sebagai salah satu dari Asia’s top five tropical island paradises. Saya jadi malu, masa orang bule lebih tahu daripada saya yang orang Indonesia! Anyway, Kepulauan Anambas ada di propinsi Kepulauan Riau yang terletak di tengah laut antara Sumatera dan Kalimantan.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Akhir Januari 2018 baru lah saya berkesempatan pergi karena nebeng teman yang ada urusan bisnis di sana. Rombongan ke Anambas ini lucu banget ceritanya, ntar deh diceritain di tulisan terpisah. Singkat cerita, instead pergi ke ibukota Kabupaten Anambas di Tarempa, kami malah "kabur" ke Letung.

Jadi Kepulauan Anambas itu terdiri dari 256 pulau tapi cuman 26 pulau yang berpenghuni. Tiga pulau terbesarnya adalah Jemaja (pelabuhannya bernama Letung), Siantan (tempat pusat pemerintahan di Tarempa), dan Matak (pusat perusahaan pengeboran minyak asing). Transportasi umum ke Anambas menggunakan feri dari Tanjung Pinang ke Letung atau Tarempa yang memakan waktu 8-10 jam, itu pun hanya ada 3 kali seminggu dan tergantung cuaca. Jangan membayangkan feri besar seperti dari Banten ke Lampung, tapi ini semacam kapal cepat dengan 125 kursi kayak di bus, plus hantaman ombak yang bikin sebagian besar penumpang muntah! Hadeuh!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Sebenarnya di Matak ada bandara tapi pesawatnya charter milik perusahaan minyak. Ada juga pesawat berupa seaplane dari Batam ke Pulau Bawah, tapi hanya diperuntukkan bagi tamu resor mewah yang dimiliki orang asing. Kami memilih turun di Letung karena di Pulau Jemaja lah yang pariwisatanya akan dikembangkan karena telah dibangun bandara untuk pesawat komersial.

Sampai di Jemaja, feri merapat di Pelabuhan Berhala. Dinamai demikian bukan karena penuh dosa, tapi karena terletak di Pulau Berhala. Melihat hamparan laut berwarna turquoise rasanya penderitaan disiksa feri langsung terbalas. Kami naik ojek ke penginapan bernama Miranti di Letung yang terletak di pinggir laut. Dengan harga per kamar per malam Rp 180.000 – Rp 220.000, saya surprise dengan fasilitasnya. Bayangin di tempat terpencil gini kamarnya bagus, ada kamar mandi dalam dengan WC duduk, ada TV layar datar, dan ada AC – bahkan di kamar bawah ada shower air panas segala lho!

Letung dari Pelabuhan Berhala

Setiap hari kami nongkrong di deck Miranti dengan pemandangan spektakuler dan air laut yang jernih sampai keliatan penyunya berenang. Jalan-jalan di Letung menarik karena rumah-rumah penduduknya berbentuk panggung di atas air. Warung, toko, restoran, pasar ada. Mau dugem juga ada di Juliani Bar & Karaoke. Meski botol-botol miras ada, tapi cuman dipajang doang di bar, minum sih tetep kopi dan teh. Hehehe! Maklum sebagian besar penduduknya Islam dan alkohol dilarang sepulau. Untungnya mereka nggak rese kalau liat saya pake bikini di pantai. #penting

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Perlu diketahui, penduduk Anambas ini sukunya Melayu, jadi mereka berbahasa Melayu gitu kayak di buku-buku jadul dengan pantun-pantun. Mereka ramah dan suka ngobrol. By the way, cowok-cowoknya ganteng-ganteng lho… dengan rahang kuat, hidung bangir, alis mata tebal, dan bodi tinggi. Tradisi khas orang Riau, kalau sore cowok-cowoknya bukannya main sepak bola, tapi main sepak takraw. Aww, seksinya! Soal kuliner terpengaruh Sumatera semacam kuah asam pedas dan kari. Cocok lah di lidah. Bosan makan ikan dan seafood, ayam juga banyak.

Kalau mau keliling pulau, harus sewa motor. Pantai terdekat yang sering jadi tempat berenang dan nongkrong orang lokal ada di Padang Merlang. Pemandangan sepulau serba hijau dan berbukit-bukit dengan jalan kecil berliku-liku. Tiap melewati pantai, saya langsung nyanyi lagu Coldplay: para para paradise… para para paradise! Apalagi pas ke Air Terjun Neraja yang menurut saya salah satu yang paling kece di dunia karena bentuknya berundak-undak dan ada kolamnya di tiap undakan, jadi puas berenang! Ke arah timurnya lagi ada Kuala Maras yang lautnya tenang bak danau luas dan dikelilingi perbukitan hijau. Sedangkan untuk sunset, paling kece nonton dari pantai deket bandara – kalau tidak mendung.

Kolam Neraja tingkat dua

Untuk island hopping, kami sewa kapal pompong. Arahnya ke mana hasil tanya-tanya penduduk lokal. Di Barat ada Pulau Ayam, Pulau Ayam Darat, Pantai Nguan. Di Utara ada Pantai Kusik, Pulau Impol Kecil, Pulau Impol Besar. Semuanya kece-kece banget! Airnya jernih, dalamnya pas untuk berenang, tidak berombak, karang dan ikannya banyak, pasirnya putih kayak bedak, latar belakangnya bukit-bukit hijau, dan sepi pi pi! Warna laut bervariasi dari biru muda, turquoise, sampai emerald green. Di pesisir Jemaja bertumpuk batu-batu raksasa, kadang ada air terjun langsung dari gunung ke pantai jadi bisa bilas air tawar abis berenang di laut! Wah, saya sampe mau nangis saking kagumnya sama keindahan Indonesia!

Kecenya!

Menurut saya, Kepulauan Anambas adalah tempat yang paling kece di barat Indonesia. Pantai kece memang banyak di Indonesia timur, tapi terbangnya jauh dari Jakarta. Anambas ini dekat pula dari Singapura dan Malaysia, jadi potensi industri pariwisatanya besar. Denger-denger sebagian pulau sudah dibeli asing dan para konglomerat Indonesia, namun belum dibangun. Dan karena terletak di barat Indonesia, harga-harga masih masuk akal dan supply bahan gampang tersedia. Soal sinyal ponsel, cuman lancar pake provider monopoli itu, tapi internet cuman nyala 2 menit dalam 24 jam, itu pun ngacir jam 3 pagi.

Katanya tak lama lagi pesawat komersial akan terbang ke Jemaja dari Tanjung Pinang. Di sini lah dilema melanda. Kita semua tahu bahwa jika akses makin sulit, tempat makin kece. Sementara bila akses makin gampang, tempat lama-lama bisa hancur saking ramenya (karena oknum yang tidak bertanggung jawab) tapi perekonomian lokal kan harus berkembang. Sebelum rasa khawatir saya berkepanjangan, saya bersyukur pernah ke Anambas sebelum populer.

Minggu, 14 Januari 2018

The Naked Traveler

The Naked Traveler


Kencan Online di Eropa

Posted: 14 Jan 2018 09:01 AM PST

Warning: Untuk 17 tahun ke atas

Sebagai jomblo akut, saya disarankan oleh seorang teman cewek untuk menggunakan aplikasi online dating (bahasa Indonesianya "kencan daring"). Saya langsung antipati karena dulu pernah menggunakan dan hasilnya gagal total. Kata teman saya, zaman now itu berbeda. "Orang seumuran kita itu sekarang susah dapet jodoh. Semuanya sibuk, hidup cuman rumah-kantor-rumah, mau keluar malas karena udah capek macet dan sebagainya. Gimana mau ketemu orang baru?" jelasnya. Bukannya isinya cuman cari teman tidur? "Ih, dicoba aja dulu. Buktinya gue berhasil punya pacar. Malah ada beberapa temen gue yang merit gara-gara online dating lho!" tambahnya lagi.

Ya udah sih. Nothing to lose. Saya pun diajarin cara-caranya dan disuruh registrasi. Tentu saya memalsukan nama dan umur, serta pasang foto yang tidak jelas. Malu, bo!

Sampe rumah, saya coba… eh kok cowok-cowoknya bikin ill feel! Bisa-bisanya foto profil bareng anak-istrinya, atau bionya ditulis "ada dech!" (pake ejaan d-e-c-h). Ewww! Dan yang bikin panik, saya ketemu profil familiar: sepupu sendiri, temen yang udah nikah dan saya kenal istrinya, dan mantan bos! Waduh! Saya pun memutuskan untuk menggunakan aplikasi kencan ini pas saya traveling di Eropa selama dua bulan pada 2016.

FYI, aplikasi kencan ini cara kerjanya adalah kita menggeser profil ke kanan bila suka dan menggeser ke kiri bila tidak suka. Kalau match, berarti kedua belah pihak sama-sama geser kanan alias sama-sama suka, baru bisa saling berhubungan via in-app chat. Dalam eksperimen ini saya menggunakan istilah "success rate" yang berarti persentase kesuksesan match dari total yang saya geser kanan.

Pertama saya coba di beberapa kota di Portugal. Wih, cowok-cowok sana emang banyak yang tipe saya. Ganteng-ganteng amat! Success rate: 50%. Begitu match, sebagian besar langsung kirim pesan ke saya di chat. Tapi akhirnya saya tidak menemui satu orang pun, karena ternyata saya malah dapat kencan di kehidupan nyata sama seorang cowok di Porto. Ehm!

Di Prancis saya cuma tinggal di Paris selama 3 malam. Cowok-cowoknya paling kece, tapi zero success rate alias nggak ada satupun laki yang geser kanan ke profil saya. Sialan!

Berbanding terbalik, di Iceland success rate-nya 100%! Semua yang saya geser kanan menggeser kanan juga, artinya semua match! Semua pick up line-nya sopan dan menyenangkan. Semua mengajak kencan. Bahkan ada yang tinggal di luar kota pun bela-belain mau terbang untuk menemui saya! Saya jadi bingung karena begitu banyak yang mengajak kencan, tapi saya takut! Udah sepi, gelap, transportasi umum jarang, ntar kalau dibunuh dan mayat saya nggak ditemukan gimana? Belakangan saya baru tahu bahwa di Iceland memang "kering" soal perjodohan. Karena penduduknya sedikit, kebanyakan mereka saling berhubungan saudara. Bahkan konon mereka punya aplikasi sendiri yang bisa mengetes apakah mereka sedarah!

Sampai di Belanda, saya rajin main aplikasi kencan daring ini. Ternyata di Belanda success rate hanya 25%. Cuma 3 cowok yang mengirim chat: 1 cowok yang dengan jelas langsung mengajak tidur, 1 cowok yang ribet masalah ketemuan di mana, dan 1 cowok lagi yang tetap sopan.

Yang sopan ini bertampang dan bernama Indonesia. Kali aja expat Indonesia yang kerja di Amsterdam, pikir saya. Setelah bolak-balik chat, akhirnya kami akan berkencan dengan makan siang di sebuah restoran dekat kantornya. Wah, ini kencan daring pertama saya! Cowok itu ternyata pemalu dan kikuk. Kami mengobrol dalam bahasa Inggris, tapi begitu sesekali saya ngobrol dalam bahasa Indonesia kok dia terbata-bata. Ternyata… dia orang Suriname! Maka selanjutnya kami pun ngobrol dalam bahasa Jawa ngoko. Hahaha! Anyway, kencan cuman sampai situ aja sih. Abis makan, pulang, dan nggak ada kelanjutannya lagi. The chemistry was not there.

Pindah ke Belgia, saya tinggal di Leuven, sebuah kota kecil yang 80% isinya mahasiswa. Agak malas main aplikasi kencan itu karena isinya dedek-dedek, malasnya lagi kalau ternyata dia kenal sama sepupu saya. Jadilah selama hampir seminggu saya non aktif. Sampai saya berkenalan dengan mahasiswi Indonesia yang juga pengguna aplikasi kencan yang sama. Katanya cowok-cowok di Leuven justru buas-buas! Lha, bukannya dedek-dedek isinya? "Cari yang anak kantoran karena cukup banyak orang yang tinggal di Leuven dan bekerja di Brussels karena Leuven lebih murah biaya hidupnya," katanya. Maka malam terakhir saya buka aplikasi dan mulai geser-geser kanan. Success rate-nya 25%. Bener aja, semua langsung mengajak tidur, kecuali seorang cowok ganteng dan sopan yang saya lanjutkan.

Karena malam itu nggak ada yang buka di Leuven, si cowok ngajak nongkrong di apartemennya yang berjarak 1 km dari apartemen sepupu saya. Bisa benerrr! Eh tapi males banget malem-malem jalan kaki sendiri! Lalu dia berinisiatif menjemput pake mobilnya. Ya udah lah, saya pasrah aja, penasaran juga akan jadi gimana. Di mobil dia lagi denger siaran pertandingan sepak bola antara klub Leuven vs Porto. Sampai di apartemennya, kami melanjutkan nonton pertandingan di TV. Saya tentu membela Porto karena kipernya Iker Casillas. Si cowok sampe heran dengan pengetahuan saya tentang persepakbolaan dunia. Singkat cerita, Leuven kalah. Dia bete banget dan berkata, "Maaf, gue kesel banget. Nothing personal, but I'd better drop you home". Lha? That's it! Saya pulang nggak diapa-apain. Hahaha!

Di Swiss tak banyak yang saya geser kanan karena muka cowok-cowoknya kok pucat dan kurang bergairah. Success rate hanya 5%. Cuman ada 1 cowok yang chat, itu pun pemalas gitu, jadi saya juga cuek aja. Belakangan saya juga baru tahu bahwa cowok Swis memang pasif dan tidak hangat. Pantes nggak match!

Negara terakhir trip Eropa saya adalah Italia, gudangnya cowok ganteng. Gayung bersambut, success rate: 75%! Hampir semuanya pun langsung kirim chat duluan. Sayangnya sebagian chat terpaksa berhenti saat mereka nggak bisa bahasa Inggris! Di utara Italia tidak ada yang saya temui karena saya nemu kencan di kehidupan nyata. Di selatan Italia, tepatnya di Napoli, dalam sejam aja langsung dapet banyak, padahal saya tiba di hotel sekitar jam 11 malam. Oke, ini negara terakhir saya akan menggunakan kencan daring. Apapun yang terjadi, terjadi lah.

Sebagian besar yang chat langsung menuju ke arah "situ" sampai saya jadi ngeri sendiri. Kecuali 1 cowok yang bahasa Inggrisnya lumayan dan bahasanya sopan. Udah kayak iming-iming ala sales, dia bilang, "Gue samperin ya? Kita ngobrol aja dulu, ntar kalo cocok baru lanjut." Saya iyain aja. Tak lama kemudian dia bilang, "Kamu keluar balkon deh. Mobil saya yang hitam." Saya nongol keluar dan si cowok itu melambaikan tangan. Udah ganteng, mobilnya mewah pula! Saya pun menemuinya dan kami ngobrol di dalam mobilnya. "Aduh, di pinggir jalan gini nggak boleh parkir lama-lama. Gimana kalau gue parkir di tempat lain, trus kita lanjut ngobrol di kamar hotel lo?"  Eisyeileeh, bisa bener! Kami pun pindah parkir dan berjalan kaki ke hotel saya. Sampai di resepsion, si cowok itu diminta kartu identitas diri. Seketika mukanya bete, ternyata nggak bawa kartu. Dia pun minta maaf dan pulang. Lha? Again!? Saya ngakak nggak berhenti karena lagi-lagi nggak terjadi apa-apa! 🙂

Kesimpulan: Pertama, aplikasi kencan daring ini memang untuk hook up dalam arti seksual. Nggak ngerti gimana caranya orang bisa dapet jodoh dari aplikasi ini. Dari ‘bawah’ naik ke hati? Kedua, saya bukan selera bule kali sampe dilepeh tiga kali. Nasib ya nasib… balik lagi jadi jomblo akut! Hehehe!

Ada yang berani share pengalaman kencan daring di sini? Tinggalin di comment ya?

Kamis, 11 Januari 2018

The Naked Traveler

The Naked Traveler


Kado Ulang Tahun

Posted: 11 Jan 2018 02:00 AM PST

Sudah lebih dari 80 negara yang saya kunjungi, semua kisahnya tertuang dalam 13 buku yang telah saya terbitkan. Berkat dukungan Anda, saya bisa terus menulis untuk berbagi cerita dari setiap sudut dunia.

Saya senang bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang melalui tulisan. Tulisan saya semoga bisa menjadi inspirasi bagi para pembaca. Saya pun mendapatkan banyak inspirasi dari puluhan tempat yang saya kunjungi dan ratusan tulisan yang saya baca. Kedua hal ini merupakan keistimewaan dalam hidup.

Bertepatan dengan hari ulang tahun saya yang jatuh pada 11 Januari, saya ingin berbagi keistimewaan dengan anak-anak di NTT (Nusa Tenggara Timur) yang selama ini kesulitan memperoleh buku bacaan. Saya mengajak Anda, para pembaca, untuk bisa membantu mereka agar juga bisa pandai membaca dengan cara mendirikan Pos Baca.

Pos Baca ini akan menjadi ruang bagi anak agar mereka bisa sepuasnya membaca dan membuka cakrawala dunia. Sehingga tidak ada lagi anak-anak NTT yang tidak bisa membaca buku bahkan buta aksara.

Ayo, berikan kado, bukan untuk saya, tapi untuk mereka!
Donasikan bantuan Anda melalui https://kitabisa.com/bukudaritrinity
Donasi ditutup sampai sebelum 31 Januari 2018.

Terima kasih.

Kamis, 04 Januari 2018

Re:[9] instanx.infobiz.kirimboss@blogger.com Business offer / Бизнес предложение

We offer e-mail databases at affordable prices. [upkib]
For marketing, advertising, newsletters. [tersmsn]
This is the most effective way to attract customers for your business. [aatqhrut]
Country: Number of e-mail addresses [mldkpt]
RU : 8,1 million[sbxlb]
AU : 3,6 million[ucwms]
CA : 3,3 million[bkceh]
DE : 8,3 million[rrqgpc]
FR : 2,7 million[xhrelod]
NZ : 0,7 million[qoxcaavn]
UK : 6,6 million[fnmehb]
US : 1,9 million[amptopoc]
COM 55,1 million[hsdecico]
ALL WORLD 228 million[xgrlna]
In addition, we can provide a base for any country in the world. [yrmuwgak]
We provide individual online training on e-mail marketing.
 [lnamt]
We create sites under the order of any complexity.
We have extensive experience in developing and writing dating websites and affiliate programs.
[nisjigty]
Details by e-mail: andrey100077@gmail.com or by ICQ: 666784430 [lbzigxn]
05.01.2018 4:32:39
Предлагаем e-mail базы по доступным ценам. [itbhh]
Для маркетинговых, рекламных, рассылок. [ocaumth]
Это самый эффективный способ привлечения клиентов для Вашего бизнеса. [dpwfguta]
Страна : Кол-во е-майл адресов[vzmmewl]
RU : 8,1 млн. [wmzjvyp]
AU : 3,6 млн.[bpuzmko]
CA : 3,3 млн.[ozwiocb]
DE : 8,3 млн.[kqwtzd]
FR : 2,7 млн.[jjztwr]
NZ : 0,7 млн.[drowedqp]
UK : 6,6 млн.[jrkfktt]
US : 1,9 млн.[ivujkihe]
COM 55,1 млн.[edmfjupf]
ВЕСЬ МИР 228 млн.[acribym]
Кроме того мы можем предоставить базу по любой стране МИРА. [lanszpxh]
Проводим индивидуальное онлайн обучение по e-mail маркетингу.
 [uxkvj]
Создаем сайты под заказ любой сложности.
Имеем большой опыт в разработке и написание сайтов знакомств и партнерских программ.
[ftqjoaz]
Предоставим уникальную библиотеку по бизнес тематике, состоящую более чем из 370 электронных книг. [lkkdhedb]
Детали по е-mail: wbase@list.ru или по ICQ: 666784430 [azyxxl]
05.01.2018 4:32:39

Kamis, 28 Desember 2017

The Naked Traveler

The Naked Traveler


Hidup Dangdut!

Posted: 28 Dec 2017 06:52 AM PST

Tulisan ini bermula di Banda Naira. Suatu malam di kota kecil itu ada acara pesta pernikahan dengan dangdutan. Saya yang doyan ikutan acara-acara penduduk lokal tentu menyambut gembira dan ikutan joget. Tapi salah seorang teman saya yang anak Jakarta ternyata tidak bisa joget dangdut sama sekali! Maka saya pun memberikan kursus kilat kepadanya. Dia yang biasa joget di club dengan trance music ternyata mengalami kesulitan joget lebih slow, padahal dangdut kan cuma maju-mundur doang.

Saya jadi berusaha mengingat kembali, kapan pertama kali saya berjoget dangdut dan pada acara apa. Sebagai seorang yang bisa joget dan pede joget di tempat umum, rasanya saya nggak pake belajar joget dangdut. Rasanya tinggal ngikutin ketukannya aja. Pertama kali saya dangdutan (di depan umum) mungkin pas SD di acara pesta adat yang kadang disempili acara joget dangdut dan saya disempilin duit di jari. Selanjutnya joget di kawinan tetangga, acara kampus, pas KKN, dan sebagainya. Jadi joget dangdut udah kayak alamiah aja gitu. Yah mungkin karena saya ndeso.

Kembali ke Banda, pesta dangdut di kawinan itu dihadiri banyak orang. Pria dan wanita duduk terpisah. Begitu lagu mulai, otomatis mereka joget membentuk satu jejer – pria menghadap wanita. Lagu habis, orang duduk lagi. Begitu seterusnya. Pernah sampai lama duduk karena laptop DJ hang! Hehe! Suasananya kayak dangdutan di kawinan Wakatobi yang pernah saya datangi, hanya di sana lebih tertib; joget lebih beraturan, muka lebih lempeng, maju-mundur bareng di dalam satu jejer. Yang joget hanya ketika pria mengajak wanita, jadi pasti berpasangan.

Di Jakarta, pesta kawin rumahan sering ada pesta dangdut. Mungkin karena dulu saya tinggal di daerah pinggiran. Saat ini pun tinggal di (sebelah) kompleks kuburan Tanah Kusir, dangdutan masih eksis – bahkan dengan cueknya orang joget-joget di kuburan! Bahkan sejak kuburan telah dirombak jadi ruang umum, pesta dangdut semakin merajalela – dengan alasan kampanye politik sampai kawinan. Ya ampyun, saya sampe nggak bisa tidur karena berisik!

Terakhir pesta dangdutan ketika tetangga bikin pesta sunatan anaknya. Panggung dipasang di samping kuburan. Semalaman orkes dangdut dan beberapa penyanyi cewek menghibur warga. Saya jadi jengah karena para penyanyi yang pake baju ketat, belahan dada rendah, dan rok mini itu berjoget vulgar, sementara si anak yang disunat baru berusia 10 tahun bersama teman-teman sebayanya menonton! Gilanya lagi, sebagian bapak-bapak 'nyawer' (menyelipkan uang) kepada penyanyi di atas panggung sambil berjoget pake ngelaba ke penyanyinya! Ewww!

Lama-lama botol miras beredar di sekitar saya dan saya ditawari juga. Ih! Saya bertanya kepada pembokat saya, "Ini kapan gue joget dong?" Jawabnya, "Kalo mau joget ya harus naik panggung dan nyawer." Lha, padahal hanya para pria yang nyawer yang bisa berjoget. Saya dan penonton di bawah hanya bisa cengo nonton – apanya yang menghibur coba? Nggak seru nggak bisa ikutan joget! Belakangan terjadilah adegan klasik: seorang bapak mabuk sedang berjoget mesra dengan penyanyi bahenol, tiba-tiba ada seorang ibu naik panggung dan menjewer si bapak nyuruh pulang! Jiaaah, tercyduk sama istrinya!

Saya jadi ingat dangdutan ala Peru di Iquitos. Malam minggu ada panggung di alun-alun kota yang genre musiknya disebut Cumbia. Mirip lah sama dangdut, jadi saya pun gampang aja ngikutinnya pas joget sama ratusan orang lokal. Pemain musik dan penyanyi mayoritas pria yang pake seragam baju jas putih. Gilanya, penyanyinya didampingi para penari latar yang berjoget memakai… bikini! Iya, cuman pake beha dan celana dalam berpayet-payet. Buset! Beberapa kota lainnya di Peru pun sering mengadakan pesta Cumbia gratis, jadi lumayan lah bagi saya ada hiburan dan olah raga dikit. Dua bulan di Peru saya memang sering mendengarkan lagu Cumbia diputar di mana-mana. Orang yang ngikutin juga sama kayak denger dangdut; mata merem-melek, kepala goyang-goyang, bibir digigit, jari jempol terangkat.

Seperti lagu Project Pop yang berjudul "Dangdut is the Music of my Country", harusnya kita bangga dengan dangdut. Masih banyak dari kita gengsi joget atau bahkan hanya mendengar dangdut karena jaim takut dianggap seleranya kelas bawah. Padahal kalau kita bisa mengelevasi dangdut menjadi musik khas Indonesia, bisa jadi daya tarik bagi dunia luar. Siapa tahu bisa sekelas Salsa atau Tango yang dipelajari banyak orang di seluruh dunia di luar negara asalnya. Oke, itu lebay. Mungkin bisa jadi sekelas Cumbia yang jadi folk dance di negara-negara Amerika Latin, tanpa harus nyawer atau hanya bisa menonton doang.

Hidup dangdut!

Baidewei, lagu dangdut apa favoritmu? Sekarang sih saya lagi seneng denger "Sayang"-nya Via Vallen. 🙂
Sayang, opo kowe krungu jerit e ati ku
Mengharap engkau kembali
Sayang, nganti memutih rambut ku
Ra bakal luntur tresno ku…

Rabu, 06 Desember 2017

The Naked Traveler

The Naked Traveler


It’s Time for Taiwan!

Posted: 06 Dec 2017 09:41 AM PST

Setelah traveling seminggu di Taiwan pada April 2017, saya balik lagi November 2017! Di tulisan terdahulu saya bilang mau balik, eh kesampaian. Meski Taiwan luasnya hanya sekitar propinsi Jawa Tengah, namun banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Mantapnya, rata-rata kota di Taiwan berpantai dengan latar belakang pegunungan jadi kece. Cuacanya pun tropis, jadi tetap hangat meski saat musim winter. Dan yang terpenting, makanan enak-enak dan harga terjangkau! Saya suka Taiwan karena alasan ini.

Kunjungan saya kali ini temanya lebih ke budaya dan tidak mengulang kunjungan sebelumnya. Saya tinggal di ibukotanya, Taipei, dan day trip aja ke daerah Yingge, Jiufen dan Yilan. Akses transportasi publiknya pun mudah, bisa naik MRT, kereta, maupun bus. Jadi ini rekomendasinya;

Taipei

Longshan Temple – Salah satu kuil terbesar dan tertua di Taiwan ini dibangun pada 1738 oleh bangsa Cina yang pindah ke Taiwan. Kuil ini sangat populer karena konon kalau berdoa di sana, maka kemungkinan terkabulnya tinggi. Yang menarik, paling rame orang di "Dewa Cinta" (cupid god) karena banyak anak muda berdoa minta jodoh!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Ximending – Ini daerah shopping outdoor keren dengan lampu-lampu mentereng. Disebut sebagai "Harajuku-nya Taipei", di sepanjang jalan pedestrian terdapat toko brand internasional maupun lokal, juga yang bertema Jepang. Ditambah lagi mal, restoran, dan kafe. Favorit saya adalah butik desainer lokal bernama "Mana" yang pakaiannya serba asimetris.

Christmasland – Setiap tahun tanggal 24 November sampai 1 Januari, halaman New Taipei City Hall berubah menjadi winter wonderland dengan pohon natal tertinggi se-Taiwan, lampu-lampu Natal dililit di seluruh area, pertunjukan musik dan animasi yang ditembak proyektor ke gedung-gedung, komidi putar dan Christmast Market. Meski penganut Nasrani hanya 4% dari total populasi Taiwan, tapi Natal memang perayaan global!

Yingge

Yingge adalah pusat produksi keramik di Taiwan. Di Yinggle Old Street saja terdapat lebih dari 800 toko keramik. Kalau penggemar keramik/porselen/tembikar, Anda bisa nggak pulang-pulang deh! Toko favorit saya adalah "Shu's Pottery" karena desainnya bagus-bagus, dan di sana bisa sekalian belajar bikin tembikar dari tanah liat dengan alat yang diputar-putar gitu.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Jiufen

Jiufen Old Street – Jiufen dulunya hanya sebuah desa yang terisolasi karena nyempil di atas pegunungan menghadap Samudra Pasifik sampai ditemukannya emas oleh bangsa Jepang. Di sini lah terdapat jalan kecil terbuat dari cobblestone yang turun-naik. Di kanan-kirinya penuh dengan toko makanan, restoran, kafe, rumah teh, dan toko suvenir. Dari ujung ke ujung saya nyobain makanannya, favorit saya adalah (terjemahannya) fried taro balls, meatballs, dan peanut roll ice cream. O ya, Jiufen jadi sangat terkenal sama turis Jepang sejak film Studio Ghibli berjudul Spirited Away.

Gold Museum – Museum ini bukan khusus memamerkan hiasan emas, namun dulunya merupakan tempat penambangan emas pada zaman penjajahan Jepang tahun 1940an. Gilanya, di sana dijadikan camp kerja paksa bagi para tawanan perang yang banyak mati karena disiksa! Di museum ini terdapat diorama dan display fakta-faktanya. Namun nggak usah ngeri karena museum ini open-air, artinya serba terbuka dengan pemandangan dahsyat dikelilingi pegunungan, salah satunya Mount Keelung. Display paling menarik adalah emas batangan terbesar di dunia seberat 220 kg dan kita bisa menyentuhnya!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Port of Keelung – Dari Jiufen, mending langsung turun ke Keelung. Keelung adalah tempat mendaratnya ekspedisi Spanyol ke Formosa pada abad ke-17. Meski kota di tepi pelabuhan, namun bersih sampai ke airnya. Night market-nya terkenal karena lebih tradisional daripada di Taipei. Yang jelas, Anda harus makan seafood-nya. Saya makan di Restoran Seafood di Chenggongyi Road yang terkenal dengan sashimi tersegar se-Taiwan. Sepiring aneka sashimi cuman sekitar Rp 90 ribu saja!

Yilan

Pinglin Tea Museum – Pinglin adalah daerah penghasil teh Pouchong. Di sana terdapat museum tentang sejarah dan budaya teh di Taiwan, mulai dari daun teh, mesin, perusahaan produksi, sampai peta ekspor. Favorit saya adalah koleksi di bagian packaging, karena ada sebagian teh tradisional Indonesia dipajang! Bangga deh!

Lanyang Museum – Museum dengan gedung miring ini didesain oleh arsitek terkenal Taiwan, Kris Yao, yang terisnpirasi dari tebing-tebing yang di sekitar Pantai Biguan. Isinya adalah segala macam tentang sejarah dan kekayaan alam daerah Yilan yang terbagi empat lantai, mulai dari "Ocean Level" sampai "Mountain Level". Sungguh, arsitektur, desain interior dan display-nya bagus!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Waiao Beach – Pantai berpasir luas dan berombak cukup besar ini adalah tempat surfing populer di Taiwan yang biasanya dipenuhi expat bertelanjang dada. Sayangnya pas di sana, pas hujan deras jadi sepi. Jadilah saya nongkrong di kafe hits bernama "No. 9 Café at the Beach" sambil memandang Turtle Island dari kejauhan. Pantas dinamakan turtle, karena emang bentuknya mirip kura-kura.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Tangweigo Hot Spring Park – Di sini terletak pusat hot spring (sumber air panas alami) yang mengalir di taman yang asri. Hebatnya, disediakan kolam-kolam kecil untuk siapapun merendam kaki dan gratis! Kalau mau berendam seluruh badan ya harus ke tempat permandian hot spring khusus di dalam gedung berkayu. Tiketnya murah kok, cuman sekitar Rp 36 ribu saja. Saya tentu nyobain, dan ternyata modelnya kayak onsen di Jepang yang kudu telanjang bulat! Nggak ada pilihan mix gender sih, tapi saya cukup syok karena ternyata cewek-cewek Taiwan gondrong-gondrong! #eaaa

Nah, tunggu apa lagi? It’s #TimeForTaiwan!

Senin, 27 November 2017

The Naked Traveler

The Naked Traveler


Wisata dan makan enak di Madrid

Posted: 27 Nov 2017 09:56 AM PST

Saya sudah pernah ke Spanyol, tapi entah kenapa saya melewatkan Madrid. Maka undangan dari Dwidaya Tour bekerja sama dengan Turismo Madrid dan Turkish Airlines untuk menjelajah Madrid pada 31 Oktober-5 November 2017 langsung saya konfirmasi. Asyiknya lagi, bareng pasangan seleb @DionWiyoko dan @FionaAnthony, serta selebgram @kadekarini.

Saat kami berkumpul di sebuah restoran di bandara Soekarno-Hatta, tau-tau koper saya udah nggak ada! Lupa kalau jalan bareng Dwidaya Tour semuanya diurusin jadi nggak usah pake mikir – koper kami tau-tau sudah dikasih bag tag, diangkat ke dalam, dan di-checkin-in! Abis itu kami dikasih SIM Card Eropa. Very well-prepared!

Penerbangan ke Madrid kami naik Turkish Airlines. Sering ke Eropa saya naik Turkish, tapi baru kali ini naik Business Class. Di Soekarno-Hatta, kami menunggu di lounge khusus dan lewat imigrasi khusus yang nggak pake antre. Kursi di business class beneran bisa jadi tempat tidur rata (flat bed) jadi bisa tidur gaya andalan: tengkurep. Makanannya enak dan berlimpah. Transit di Istanbul Ataturk Airport dapat lounge yang luas dan banyak pilihan makanan. Sekarang saya baru sadar bahwa saya nggak masalah terbang belasan bahkan puluhan jam, asal di business class! Hehe!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Siang hari kami tiba di Adolfo Suarez Madrid-Barajas, dijemput van dengan supir ganteng, langsung check in di hotel Eurostar Suites Mirasierra yang terletak di business district hanya 20 menit berkendara dari bandara. Namanya juga Suites, kamarnya gede – ada dapur, ruang makan dan ruang duduk segala.

Lagi lapar-laparnya kami makan siang khas Spanyol ala prasmanan di restoran Topolino, mulai dari paella, steak sampai dan tres de leche. Seorang guide lokal memandu kami jalan-jalan keliling pusat kota Madrid, mulai dari Puerta Del Sol, Plaza Mayor, Plaza de Espana, Cervantes Monument, sampai ke Cibeles Fountain yang dipakai untuk merayakan kemenangan klub sepak bola Real Madrid. Hari itu pas hari libur Dia de los Muertos, jadi penuh dengan orang lagi hangout atau menikmati musik jalanan. Orang Spanyol yang berkulit lebih kecoklatan dan rambut hitam memang sedap dipandang!

Saya paling suka ke Plaza de Toros de Las Ventas. Stadion bullfighting berkapasitas 25.000 kursi ini cakep banget karena berasitektur khas Moorish dengan dominasi warna tanah dan dilapisi keramik. Sangat Instagramable! Hari itu diakhiri dengan makan malam di restoran hits bernama Prada A Tope yang masuk Michelin Guide. Saya pesan pork chop dan bir lokal yang nikmat.

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Keesokan harinya kami ke Royal Palace of Madrid. Istana keluarga kerajaan Spanyol ini merupakan yang terluas dari seluruh istana di Eropa, ruangannya aja ada 3.418! Furnitur, perabotan, alat makan, lukisan istana memang bikin menganga, mana tiap ruangan berdekorasi warna senada pula. Istana yang sangat cantik! Untungnya lagi, hari itu di lapangan sedang ada latihan pasukan kerajaan demi menyambut Perdana Menteri Israel jadi kami bisa menonton gratis baris-berbaris dan drum band.

Kami lanjut ke Buen Retiro Park untuk foto-foto karena Dwidaya menyediakan servis fotografer profesional dari @SweetEscape. Jadilah kami bergaya ala-ala di antara pepohonan berdaun kuning saat musim gugur! Di taman asri yang berdanau ini juga terdapat Palacio de Cristal, istana kristal dengan struktur kaca dan logam. Makan siang kami kali ini di Thaidy dengan makanan Thailand. Perut pengen makan nasi putih mengepul dan lauk berbumbu pedas ini pun terpuaskan!

Photo by @SweetEscape

Sorenya kami ke Santiago Bernabéu – stadion sepak bola markas tim sepak bola Real Madrid! Selalu senang akhirnya bisa mengunjungi tempat yang tadinya cuma liat di TV. Stadion berkapasitas 81.044 kursi ini emang gede banget, kami masuk dari jejeran kursi paling atas sehingga tampak ngeri melihat ke bawah. Kami juga ke tempat duduk para pemain sampai ke locker dan kamar mandinya! Aww, saya "sedekat" itu dengan Cristiano Ronaldo! Museum Real Madrid juga keren, berisi memorabilia para pemain dan sejarah kemenangan mereka di aneka kejuaraan dunia. Hala Madrid!

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Karena masih ada waktu sebelum makan malam, saya mengusulkan untuk ke Primark – toko pakaian murah meriah, bahkan lebih murah daripada di Indonesia. Gilanya lagi, di Madrid toko ini gede banget sampai lima lantai! Setelah agak kalap belanja, kami pun makan malam gaul di Hard Rock Café Madrid sampe blenger karena apapun porsinya XXXL – pork ribs setengah kilo, es krim fudge seember!

Pagi-pagi pas sarapan di hotel eh kami ketemu José Mourinho, manager-nya Manchester United! Kadek langsung nyamperin minta foto bareng, dan beliau menjawab dengan muka jutek sambil mengacungkan jari telunjuknya ke kanan ke kiri. Saya dan Dion pun melipir kabur! Atuuuuut! Tapi jadi mikir, ngapain doi sendirian di Madrid ya? Apa mau balik lagi ke Real Madrid? ?

Kami lalu mengunjungi San Lorenzo de El Escorial yang berjarak sekitar setengah jam dari Madrid. Kota kecil ini masuk ke dalam UNESCO Heritage Site karena dulunya merupakan tempat tinggal Raja Spanyol yang telah menjadi biara yang masih berfungsi – sayangnya interior tidak bisa difoto. Rupanya zaman dulu Raja dan Ratu tinggal terpisah meski di satu istana. Masing-masing punya sejumlah pelayan yang membantu mereka mulai dari membersihkan kotoran sampai mengangkat mereka saat berjalan – pantes aja mereka pada gemuk karena tidak bergerak! El Escorial juga merupakan makam Raja-Raja Spanyol sejak lima abad yang lalu. Makam mereka berada di bawah tanah, di dalam peti di dalam dinding! Hiyyy!!

Makan siang khas lokal di La Cueva Meson Taberna, restoran tertua di kota itu yang sudah beroperasi selama 50 tahun. Menu yang saya pilih: Candeal bread, Sopa Castellana, Chuletón de Ávila, dan Custard of the Inn. Para waiter-nya hanya bisa berbahasa Spanyol dan saya bangga jadi satu-satunya yang bisa berkomunikasi dengan mereka untuk order makanan. Ternyata #TNTrtw di Amerika Selatan ada hasilnya!

Lalu ke Las Rozas Village, salah satu Luxury Factory Outlet terbesar di Eropa dengan diskon sampai 60% dan bebas pajak. Brand-nya mulai dari Armani, Bulgari, Coach, Gucci, Furla, Michael Kors, Versace, sampai yang "sederhana" macam Timberland, Columbia, dan Camper (brand asal Spanyol, dibacanya "kamper" dengan e pepet). Keluar masuk toko doang aja saya menghabiskan 2 jam lebih!

Kembali ke pusat kota Madrid, kami ke Mercado de San Miguel. Namanya pasar, tapi bukan pasar basah tradisional, melainkan bangunan berkaca berisi sekitar 30 kios penjual aneka makanan, dari tapas, zaitun, ham, bir, wine, roti, dan sebagainya. Budaya makan tapa ini muncul karena jam makan orang Spanyol yang dimulai sekitar jam 2 siang untuk lunch dan jam 9 malam untuk dinner, jadi di antaranya mereka makan camilan berupa aneka tapa sambil mimi alkohol.

Wisata Madrid diakhiri dengan menikmati pertunjukan tarian yang terkenal di Spanyol, Flamenco, sambil bersantap malam di Las Carboneras. Paella seafood-nya juara, ditambah lagi minuman khas Sangria tidak membuat kami mengantuk menonton Flamenco. Tarian yang merupakan kombinasi antara tarian dengan banyak hentakan kaki, nyanyian, permainan gitar, tepuk tangan, jentikan jemari ini memang luar biasa dinamis. Saya juga baru pertama kali menonton penari Flamenco pria yang tak kalah kerennya.

The paella tastes better than my picture tho 🙂

A post shared by Trinity (@trinitytraveler) on

Madrid memang ibu kota yang hidup, wisata dan makan pun enak-enak!